A short Fanfiction…
A n n i v e r s a r y
b y
H a k u y a R i n o v i
"Bukan!" bentakku pada pria yang 15 cm lebih tinggi di hadapanku.
"Tapi faktanya memang begitu!" bantahnya.
"Nggak mungkin! Suaraku lebih bagus darimu!"
"Kenapa? Apa kau tak bisa sekali saja mengalah dariku? Atau hubungan kita memang cuma main-main saja?" dia memasang ekspresi yang paling kubenci, wajah dinginnya. Tanganku terayun kepipinya.
PLAK!!
Aku menamparnya.
"Kemana saja kau setahun belakangan ini?! Apa selama tour kau sudah menemukan gadis lain sementara aku menunggumu disini?! Apa kau menganggap hubungan kita selama empat tahun ini hanya main-main?!" aku sudah tak dapat membendung air mataku. Air mataku mengalir deras.
"Dai kirai!" seruku. Lalu aku pergi meninggalkannya.
.
.
Aku terbangun dengan keadaan yang sangat parah. Mataku sembab, kepalaku pusing, dan bantalku basah. Oh hebat, pertengkaranku dengannya semalam membawa dampak buruk.
Aku sudah bertengkar dengan pacarku, Chinen Yuri untuk yang kesekian kalinya. Dan yeah, dengan mesin karaoke sebagai penyebab yang lebih konyol dari sebelumnya. Mungkin suatu hari nanti setelah kami menikah, kami akan bercerai dengan selai coklat sebagai alasan perceraian kami.
Baiklah, namaku Megurine Shion. Aku bersekolah di Tsubasa Gakuen, dan aku memiliki pacar seorang selebritis yang lebih 2 tahun lebih tua dariku. Mungkin kalian berpikir "Wah, enak banget punya pacar seorang artis," tapi pasti kalian akan tau rasanya saat mencoba. Labrakan fans? Oh, itu hal biasa. Aku sudah merasakannya dari saat pertama jadian dengannya di kelas 1 SMP. Bertengkar? Well, itu masalah keduaku. Umur? Itu bukan masalah.
Yang jadi masalah adalah, kekeras kepalaan kami yang membuat kami bertengkar. Dan yang lebih konyol lagi adalah, penyebabnya adalah sesuatu yang tak bisa dibilang masalah.
Contohnya, saat ujian semester, kami bertaruh siapa yang meraih nilai tertinggi. Dan kami nyaris putus karena nilainya lebih tinggi dariku.
Aku melangkahkan kakiku dengan berat ke kamar mandi dan mulai aktifitas pagiku yang paling penting. Selesai mandi, aku mematut diriku di depan cermin. Mataku sudah lumayan dan penampilanku juga seperti biasa, kacamata frame hitam, rambut kepang dua, dan seragam rapi. Kalung berbandul sebuah mawar dengan tiga warna warna yang berbeda, merah, biru, dan pink. Kalung ini tentu saja memiliki arti. Kalung ini diberikan oleh Yuri saat kami anniversary ke tiga. Tiga warna melambangkan tahun ke tiga kami, dan tiga hal: berani, luas, dan manis. Okay, aku sudah siap.
.
.
Okay, jangan tanyakan padaku bagaimana hariku di sekolah. Aku akan menceritakkan sedikit saja. Pelajaran pertama sampai pelajaran kedelapan, aku mengikutinya dengan sangat tidak baik. Sedangkan pelajaran terakhir sama sekali tak kuikuti. Karena aku tertidur di kelas, dan baru bangun saat ketua kelasku menyuruhku memberi aba-aba untuk bersiap. Dan sekarang, aku sedang dalam perjalanan menuju pintu gerbang sekolah. Okay, biar kuperjelas. Aku baru saja keluar kelas karena barang-barangku berserakan. Jadi terpaksa aku pulang sedikit lebih terlambat.
Aku tak tau pasti apa salah, dosa dan perbuatanku yang membuat sebuah tangan yang besar membekap mulut dan hidungku. Dan aku juga tak tau kenapa kesadaranku semakin menipis dan akhirnya… aku kehilangan kesadaran dan okay, semuanya menggelap.
.
.
Aku terbangun dengan keadaan duduk di sebuah sofa ketika di dalam mimpiku aku tersandung batu dan akhirnya jatuh ke jurang. Dan saat mataku terbuka sepenuhnya, aku dapat melihat sebuah susunan lampu yang membentuk tulisan yang berbunyi:
'Happy, 4th Anniversary!
In our 4th anniversary, I just want to say:
Will you marry me?
Aishiteru
Sarangheo
I love you
Who ai ni
Yuri Chinen
知念侑李
ChiiMegu♡
YuuShi'
"Oh yeah! Because there is you!" sebuah alunan musik rock melantun dan Yuri muncul sembari bernyanyi.
"Tooi sora wo isogu you ni shizumi hajimeta yuuhi ga
Sukoshi dake todomatte awai iro no yume wo miseru yo
Hitori de wa kagayakenai kizutsuku koto mo dekinai
Wakachi au itoshisa wo taisetsu ni omou
Naze koko ni naze kimi to iru no darou?
Naze koko de naze kimi to warau no darou?
Itsumademo itsumademo koushiteitai you
Oh yeah
BON BON BO BON BON mune odoru kono shuunkan ni
Hibiku koe ga bokura wo tsutsunde iku
BON BON BO BON BON kono te ni tsutau kodou
Attakainda shinjirarenai hodo ni Because there is you!
Oh yeah, because there is you!" Yuri berhenti bernyanyi. Aku masih terkejut.
"Kau tau, kau memang satu-satunya cowok yang bisa membuatku menangis," kataku saat menyadari kalau air mataku sudah mengalir deras.
"Maaf sudah membuatmu menangis," Yuri berjalan kearahku, lalu berlutut di depanku dan menghapus air mataku. Tangannya masih ia tangkupkan di pipiku.
"Kau tau... aku membencimu karena kau lebih pintar dariku. Aku juga membencimu karena suaramu lebih bagus dariku. Aku benci padamu karena kau bisa membuatku menangis. Tapi... aku semakin benci padamu karena kau membuatku jatuh cinta padaku," kataku sambil menangkupkan tanganku di kedua pipi Yuri. "Dan aku akan membencimu sampai akhir hayatku kalau kau tak mencintaiku juga."
Dia lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku dan menciumku. Rasanya kali ini sedikit asin karena bercampur dengan air mataku. Tapi... bibirnya selalu terasa manis saat menyentuh bibirku.
--Fin—
~Omake~
"Jadi, bagaimana? Apakah kau mau menikah denganku?" tanya Yuri padaku.
"Aku selalu bersedia," jawabku. "Tapi berjanjilah padaku."
"Apa itu?"
"Kita tak akan bercerai hanya karena selai coklat atau hal konyol lainnya," Ia menyeringai.
"Aku berjanji,"
--FIN--